OPINI

Memahami Dinamika Populasi Untuk Menunjang Perikanan yang Sehat di Maluku

PDF Print E-mail
J.W. MOSSE    Thursday, 21 March 2013 01:50  Read: 13732 times
Share

Ikan Kerapu (Garopa, Ambon): Memahami Dinamika Populasi Untuk Menunjang Perikanan yang Sehat di Maluku

J.W.Mosse
Guru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti

e-mail: This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it . Web: http//www.bobmosse.com

Overview
Ikan Kerapu, yang bagi orang Maluku dikenal dengan nama ikan garopa, termasuk dalam keluarga (family) Serranidae. Hingga saat ini masih terus menjadi favorit dan komoditi perikanan domestik maupun internasional yang sangat mahal. Kehidupan ikan ini dan semua ikan karang lainnya sangat tergantung pada perairan yang memiliki terumbu karang. Artinya apabila terumbu karang rusak maka sudah dapat dipastikan bahwa ikan ini juga akan mengalami penurunan populasi yang drastis dan bahkan hilang sama sekali dari perairan tersebut. Ini adalah gangguan sekunder yang cukup berbahaya namun kita sering tidak perduli. Selain itu kerusakan terhadap populasi ikan-ikan karang termasuk ikan kerapu sebagai akibat dari penangkapan yang tidak berbasis ilmu pengetahuan (science) juga berkontribusi sangat tinggi. Berkaitan dengan hal tersebut maka dalam rangka memperngingati Tahun Emas (50 Tahun) Unpatti, tulisan ini hadir dan kiranya dapat memberi gambaran pengetahuan yang dimaksud bagi pembaca sehingga lebih memahami dinamika ikan ini dan segera merubah kebiasaan pemanfaatan (penangkapan) yang terus keliru dan tidak ramah terhadap sumberdaya.

Pendahuluan

Ikan Kerapu (Garopa, Maluku) adalah salah satu kekayaan sumberdaya alam laut Maluku yang memiliki nilai mulitdimensi ekonomi tinggi. Selain sebagai sumber pangan bergizi tinggi dan sehat karena dagingnya yang putih dan gurih, ikan kerapu juga dapat dijadikan sebagai modal pariwisata yang sangat mahal dan bergengsi serta sumber inspirasi ilmiah yang kompleks namun unik. Bagi sebagian masyarakat dunia (terutama di Asia), kebiasaan mengkonsumsi ikan ini juga ternyata mengandung nilai kebudayaan yang tinggi dan luhur. Sejalan dengan semakin meningkatnya perekonomian masyarakat di pusat-pusat perdagangan ikan karang seperti di Hongkong, Singapura, daratan Cina dll,  pilihan terhadap kualitas produk untuk dikonsumsi juga terus meningkat. Hasil analisa konusmen ikan karang hidup di pasar Hongkong dan daratan Cina memperlihatkan bahwa mengkonsumsi ikan yang sebelumnya dibekukan tidak menjadi masalah, numun kini hal tersebut mulai ditinggalkan dan beralih memilih ikan yang masih hidup karena secara biokimawi kualitasnya jauh lebih baik (Dragon Search for QDPI, 1996). Mereka sangat menyakini dan berpegang teguh pada sebuah filosofi bahwa “after all, good meals means good life”; pada ahirnya, makanan yang sehat menghasilkan hidup yang baik dan ikan kerapu adalah pilihan.

Dari sisi ilmu pengetahuan (science), hingga saat ini hampir sebahagian besar jenis ikan Kerapu telah diteliti namun karakterisik biologi dan demografi populasi alaminya masih membuat para ahli tercengan. Mekanisme pergantian kelamin (sex reversal mechanism) yang tidak hanya tergantung pada satu faktor tetapi banyak faktor yang bersifat random merupakan salah satu aspek dinamika populasi yang masih membuat para ahli terus mempelajarinya. Berbagai hasil penelitian terkini terhadap ikan ini maupun sebahagian besar ikan karang menunjukan bahwa mekanisme pergantian kelaminnya bersifat satu arah (one direction) (Shapiro, 1981b; Sadovy, 1996; Mosse, 2001). Artinya berganti dari jenis kelamin betina ke jenis kelamin jantan (hermaprodite protogenous). Sistem haremic dalam koloni-koloni yang terbentuk dalam populasi serta kemampuan hidup yang lebih lama (long lived) merupakan beberapa ciri dinamika dan siklus hidup ikan ini yang perlu diketahui dan dipahami (Mosse, 2001; Mosse and Davies, 2007).

Ikan Kerapu yang berasal dari keluarga (famili) Serranidae, termasuk dalam kelompok ikan-ikan perairan dasar (dimersal) yang spesifik dan unik karena keberadaannya sangat terkait erat dengan perairan yang didominasi oleh terumbu karang (coral reefs). Atas dasar itu maka kita sangat yakin bahwa penyebaran dan keberadaan ikan ini cukup luas sehingga dapat ditemukan hampir di semua perairan di dunia terutama yang memiliki terumbu karang mulai dari perairan Caribea di Samudera Atlantik, Samudera Hindia maupun di Samudera Pasifik termasuk kita di Indonesia dan lebih khusus di perairan Indonesia Timur . Secara kuseluruhan variasi alami ikan ini cukup banyak dengan total genera yang telah diketahui hingga saat ini ada berjumlah lebih dari 15 yang didalamnya terdapat lebih dari 159 jenis (species) (Heemstra and Randal, 1993). Walaupun secara alami populasi ikan kerapu cukup melimpah di berbagai perairan, namun karena aktivitas penangkapan yang tanpa batas, tidak peduli terhadap aspek keberlanjutannya dan cenderung terus meningkat maka saat ini populasinya juga terus menurun hampir di seluruh perairan dunia termasuk kita di Maluku. Penurunan ini semakin diperparah dengan kenyataan bahwa secara politis kita sulit mengakui bahwa populasi sumberdaya perikanan kita telah mengalamin suatu keadaan tangkap lebih atau secara populer disebut dengan overfishing. Kita takut mengatakan demikian karena mungkin berkaitan dengan investasi, padahal secara biologi ukuran ikan kerapu yang tertangkap semakin kecil. Hal yang sama juga terjadi pada ikan-ikan karang lainnya.   Regulasi dalam bidang perikanan yang termuat dalam UU No.31 tahun 2004 belum mampu mencegah perilaku masyarakat nelayan kita yang hanya mau untung sendiri tanpa memikirkan keberlanjutan populasi yang ada di alam bagi generasi yang akan datang. Penangkapan ikan dengan menggunakan berbagai alat yang sangat merusak (destructive) seperti bom,  penggunaan bahan kimia seperti potassium dan cyanide adalah contoh ketidakpedulian yang harus dihentikan. Selain itu kebiasaan nelayan yang menangkap di saat ikan sedang dalam musim berreproduksi dan menangkap di daerah pemijahan (spawning aggregation, SPAG) juga merupakan kebiasan yang tidak bersahabat dengan alam. Inilah perilaku manusia yang harus di kelola (manage) dengan baik karena mengabaikan prinsip ini berarti apapun usaha manusia untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan terumbu karang kita termasuk ikan Kerapu, pasti akan sia-sia. Secara alami, sumberdaya perikanan ikan karang (termasuk ikan kerapu) akan sangat mampu memperbaiki diri sendiri (self recover), namun hal ini akan terhambat apabila intervensi manusia terlalu besar dan kecepatannyapun melibihi kemampuan sumberdaya memperbaharui diri sendiri (recovery). Dengan demikian secara singkat dapat saya katakan bahwa manusia tidak perlu mengatur alam, biarkan alam mengatur dirinya sendiri dan manusia harus mengatur kebiasaan manusia yang selalu ingin merusak alam.

Gambaran di atas sangatlah jelas sebab kenyataannya kita dan terutama para nelayan tidak pernah memberi pupuk di laut, tetapi ikan selalu ada untuk dipanen (tangkap). Kita hanya diajak untuk ikut menjaganya saja tanpa harus bekerja sangat keras. Hal ini nampaknya sedikit bertolak belakang dengan aktivitas di alam darat dimana  seorang petani harus memberi pupuk yang cukup kepada tanamannya supaya tumbuh subur dan memberi hasil yang baik.

Seperti halnya berbagai organisme hidup yang memiliki strategi untuk mempertahankan populasinya, maka ikan kerapu juga memiliki sejumlah strategi hidup yang khas dan unik. Berganti kelamin dari bentina menjadi jantan (protogenous), berumur panjang (antara 10 – 40 tahun), bermigrasi dan berpijah (spawn) dalam agregasi  adalah beberapa karakteristik umum ikan karang yang sebenarnya cukup rentan terhadap kepunahan (Mosse, 2001). Sayangnya kekhasan ini tidak dibarengi oleh langkah bijak kita untuk mengakuinya sebagai salah satu komoditi andalan nasional maupun daerah.

Hingga kini komoditi yang sangat berharga ini sering tidak tercatat  dalam dokumen statistik perikanan secara specific di banyak daerah termasuk kita di Maluku. Padahal rantai perdagangannya dan pasarnya sangat specifik yaitu di Hongkong, daratan Cina, Jepang Singapore, Malaysa dll. Kalaupun tercatat hanyalah sebagai bahagian dari kelompok ikan yang disebut “Ikan lain-lain” atau “ikan batu-batu”. Sebutan ini saya anggap tidak tepat sebab dapat mengelabui (misleading) masyarakat nelayan kita yang selalu bekerja keras di laut tetapi insentiv yang diterima tidak sebanding dengan hasil kerjanya dengan alasan hanyalah ikan batu-batu yang cukup dibanyar murah. Hal ini memberi indikasi yang kuat bahwa memang komoditi yang satu ini belum dianggap penting, padahal harga ikan kerapu di pasar internasional (Hongkong) dapat mencapai US$180 per kg pada saat-saat perayaan tertentu atau kurang lebih Rp 1,800.000 per kg (rate Rp 10,000) (Johannes and Riepen, 1995). Situasi harga ini tentu akan terus mengalami peningkatan yang tidak hanya kerena meningkatnya permintaan tetapi juga karena semakin terbatasnya suplai ikan ini di pasaran. Fenomena ini perlu dikaji kembali dan diluruskan agar membangkitkan kesadaran kita akan nilai yang harus dibayar dan kepedulian kita tentang pentingnya sumberdaya ini. Selain itu perlu diketahui bahwa terumbu karang bukanlah kumpulan batu yang mati, tetapi adalah kumpulan jutaan microorganisme yang hidup dan membentuk terumbu karang sehingga memberi kehidupan kepada penghuninya termasuk ikan.

 

Lingkup dan pentingnya perikanan ikan karang

Kita ketahui bahwa terumbu karang (coral reefs) tersebar cukup luas hampir diseluruh perairan dunia, namun perkembangan terbesarnya dijumpai di perairan tropis termasuk kita di Maluku yang masuk sebagai bagian dari segita terumbu karang dunia (coral triangle). Luas permukaan bumi yang ditutupi oleh ekosistem terumbu karang sangatlah kecil yaitu kurang dari 700,000km2 (Smith, 1978; Munro, 1977), tetapi peranannya sangatlah besar.  Ekosistemnya cukup kompleks dan sangat kaya akan keragaman hayati (biodiversity) dan merupakan habitat berbagai jenis, ragam dan ukuran makluk hidup mulai dari yang berukuran planktonik (mikro) sampai yang berukuran besar seperti ikan, kerang-kerangan dan udang-udangan, dll. Berbagai penelitian terus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pusat keragaman hayati dunia karena di sinilah 35% jenis ikan ditemukan. Secara khusus untuk ikan karang saja jumlah species ada lebih dari 2,500. Karena tingginya keragaman yang demikian maka oleh para ahli, ekosistem terumbu karang sering disejajarkan dengan kekayaan hutan tropis (Polunin dan Roberts, 1996). Di sinilah jutaan manusia yang menempati  wilayah pesisir menggantungkan kehidupannya karena ekosistem ini mampu menyiapkan lapangan pekerjaan yang beragam dan luas. Selain itu pendapatan daerah dan negara dapat dihasilkan melalui ekosistem ini saja. Ada gambaran yang sangat menarik bahwa sebuah wilayah (paparan) terumbu karang yang luasnya kurang lebih 26km2 (meti) dan 42km2 wilayah tubir (slope) mampu menyediakan kesempatan kerja untuk 17,000 orang (McManus dkk 1992). Kegiatan perikanan dan pariwisata adalah dua produk unggulan yang sanggup menghidupi jutaan warga bila dikelola dengan pandai dan bijaksana. Kabupaten Manggarai Barat di ujung Barat Pulau Flores Provinsi NTT dengan Taman Nasional lautnya dapat dijadikan contoh kasus keberhasilan memadukan dua produk unggulan dimaksud bagi pembangunan ekonomi daerahnya. Pembagian wilayah perairan atau zonasi yang tepat termasuk no take zone yang diperuntukan bagi ikan kerapu sebagai lokasi pemijahan atau berreproduksi (SPAG) adalah langkah bijaksana yang diambil dalam rangka pengelolaan sumberdaya perikanan terumbu karang mereka. Pertanyaannya, kapan konsep yang sama diadopsi untuk diterapkan di Propinsi kepulauan Maluku untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan kerapu yang masih tersisa.

Ada sebuah anecdot menarik dari Kabupaten Manggarai Barat yang terletak di ujung Barat Pulau Flores, Provinsi NTT dimana Para nelayan yang sudah naik Haji yang ada di sana sering disebut dengan ungkapan “Haji Cumi-Cumi”. Ungkapan ini memang cukup beralasan karena di sana sumberdaya cumi-cumi (kelompok Moluska) melimpah sehingga perekonomian masyarakat di sana sangat tertolong. Pada setiap musim, penangkapan cumi-cumi setiap malam dapat mencapai 7-8 ton per unit usaha (effort). Contoh lain adalah berasal dari sebuah Negara terkecil di Asia, Maladewa (Maldives) yang berpenduduk kurang lebih 295,000 jiwa. Terletak di Samudera Hindia, negara ini juga berbentuk kepulauan (1200pulau) dengan ketinggian daratannya hanya mencapai 24 meter dari permukaan laut. Keseluruhan pulaunya dikelilingi oleh karang atol sebagai barrier dengan  pulau terbesarnya hanya seluas tidak lebih dari 13km2 . Berdasarkan kondisi geografis demikian maka tidaklah mengherankan apabila pendapatan nasionalnya bersumber dari sektor perikanan dan pariwisata sebagai dua produk unggulannya. Orang Maladewa lebih suka makan ikan tuna daripada ikan karang sehingga ikan karangnya tetap melimpah. Oleh Pemerintah, ikan karang terutama  kerapu kemudian dijadikan objek untuk mendukung industri pariwisata dan sebagai komoditi dagang yang mahal.

Belajar dari dua contoh kasus di atas, nampaknya kita masih harus belajar untuk membuat komitemen yang benar dan serius untuk memajukan sektor kelautan di negeri ini.  Mengabaikan sektor ini berarti kita akan mengalami kerugian besar dan kehilangan banyak sekali komoditi unggulan terutama yang berasosiasi dengan terumbu karang antara lain berbagai jenis ikan karang yang dikategorikan sebagai ikan pangan terutama kerapu dan ikan hias, Lola, batu laga, rumput laut, teripang, lobster, bahkan sumber biofarma yang sangat penting bagi manusia.

Kekawatiran ini bukanlah tanpa alasan sebab berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa perikanan ikan karang di Asia sedang mengalami tekanan exploitasi yang sangat berat sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang cepat pula yang pada ahirnya meningkatkan permintaan akan produk perikanan (Reviewed in Polunin and Roberts, 1996). Saat ini diperkirakan pasar ikan hidup di Hongkong selain Jepang dan Singapura  telah mengimport kurang lebih 22,500 ton ikan Kerapu yang mana 60% berasal dari hasil tangkapan di laut dan sisanya dari hasil budidaya dan jumlah ini akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Menyadari akan karakteristik perairan Maluku yang juga dikelilingi oleh terumbu karang yang luas, maka sudah pasti ikan sebanyak tersebut di atas juga berasal dari perairan Maluku baik secara legal maupun illegal (Johannes and Riepen, 1995). Informasi yang saya kumpulkan dari masyarakat khususnya dari wilayah perbatasan di Kabupaten Maluku Barat Daya mengatakan bahwa semakin banyak aktivitas illegal di perairan karang mereka, baik itu yang dilakukan oleh nelayan dari luar wilayah kabupaten MBD maupun oleh nelayan asing.  Sayangnya mereka tidak dapat berbuat banyak karena keterbatasan sarana untuk menjaga sumberdaya di sekitar mereka. Disinilah komitmen dan keseriusan pemegang otoritas untuk mengelola sumberdaya perikanan kita di tantang.

Variasi dan tingkat keragaman hayati suatu wilayah perairan karang akan berpengaruh pula terhadap besar kecilnya produksi perikanan yang dihasilkannya. Williams dan Hathcer (1983) mengemukakan bahwa produksi perikanan di Great Barrier Reef Australia dibentuk oleh sepuluh famili utama ikan karang dan kondisi yang hampir sama juga ditemukan di Indonesia (Tabel 1).

 

Tabel 1. Sepuluh famili ikan karang pangan yang penting di Indonesia

No.

Famili

Nama dagang

1

Caesiodidae

Ekor kuning

2

Holocentridae

Gora

3

Serranidae

Kerapu, Garopa

4

Siganidae

Beronang, Samandar

5

Scaridae

Gigi anjing, Kakatua

6

Lethrinidae

Lencam, sakuda

7

Priacanthidae

Suanggi, Mata bulan

8

Labridae

Napoleon, Maming

9

Lutjanidae

Kakap merah

10

Haemulidae

Gerot-gerot, Raja bau

 

Dari kesepuluh kelompok famili tersebut hanya beberapa saja yang oleh komisi pengkajian stok ikan laut nasional telah sepakat untuk dipakai sebagai indikator potensi perikanan ikan karang di Indonesia yang meliputi; Kerapu (Serranidae), Lencam atau Sakuda (Lethrinidae), Ekor kuning (Caesiodidae), Beronang atau Samandar (Siganidae), Kakap merah (Lutjanidae), Kaka tua (Scaridae) dan Napoleon atau maming (Labridae). Selain ikan-ikan ini yang termasuk dalam kelompok ikan pangan (konsumsi) ada juga kelompok ikan hias yang secara agregate mendukung perikanan ikan karang di Indonesia. Secara keseluruhan, diperkirakan potensi perikanan ikan karang di Indonesia adalah sebesar 149,300 ton per tahun dengan menggunakan asumsi kepadatan sebesar 3 ton untuk setiap km panjang garis pantai. Dari hasil pendugaan ini, 108,499 ton per tahun disumbangkan oleh tiga famili utama yaitu Kerapu, Lencam dan Ekor kuning (Djamali dan Mubarak,1998) dan dari jumlah ini ikan kerapu menyumbang kurang lebih 34,004 ton.

Untuk perairan karang di Maluku yang luasannya dapat mencapai 543km2 diprediksikan dapat menyumbang kurang lebih 21.384 ton ikan karang pangan yang meliputi tiga perairan utama yaitu perairan Laut Seram, Laut Banda dan Laut Arafura. Sayangnya dari gambaran ini kita belum dapat memprediksi besar sumbangan ikan Kerapu, kecuali data eksport hasil perikanan Maluku yang tercatat pada tahun 2002 sebesar 22,65 ton dan pada tahun 2003 hanya mencapai 19,38 ton. Sedangkan perkembangan pada tahun-tahun setelahnya hingga saat ini kita tidak mempunyai data sama sekali. Hal ini agak kontras dengan apa yang dimonitor oleh perdagangan ikan karang di pasar Internasional terutama di Hongkong yang secara statistik produksi ikan kerapu cukup jelas seperti telah disinggung di atas. Inilah gambaran tentang situasi kita saat ini yang kiranya mendapat perhatian serius dimasa mendatang untuk mengisi kekurangan yang ada. Langkah cepat perlu segera diambil karena kita sedang bersaing dengan semakin meningkatnya laju eksploitasi, yang jika tidak dibarengi dengan upaya untuk memperoleh data yang akurat tentang potensi sumberdaya melalui suatu penelitian yang terrencana maka kita tidak akan pernah mengetahui besaran tersebut.


Karakteriestik dinamika ikan kerapu

Berdasarkan pengklasifikasinya, ikan kerapu yang kita kenal umum saat ini termasuk dalam famili atau keluarga Serranidae. Secara keseluruhan ada 5 sub-famili yang termasuk dalam famili ini, namun sub-famili yang paling penting secara ekonomis adalah berasal dari sub-famili Epinephelinae. Sub-famili ini memiliki jumlah genus sebanyak 15 dengan jumlah jenis (species) sebanyak 159. Mengingat tingkat keragaman jenis biota di perairan tropis terutama di perairan Indonesia Timur  cukup  tinggi, maka bukanlah tindak mungkin jumlah tersebut di atas dapat saja mengalami penambahan diwaktu-waktu mendatang. Secara keseluruhan ke 15 genus tersebut memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan ikan-ikan karang lainnya (Tabel 2).

 

Tabel 2. Resume harga beberapa jenis ikan Kerapu dan ikan karang lainnya di beberapa pasar Asia (Hongkong dan Singapura) ( rate 1US$ = Rp 10,000)

Species

US4/Kg

Rp/Kg

Humphead wrasse (Cheilinus undulatus), Maming

50-70

500,000-700,000

Highfin grouper (Cromileptes altivelis), Kerapu bebek

40-90

400,000-900,000

Coral trout (Plectropomus leopardus), Kerapu sunu

25-40

250,000-400,000

Estuary cod (Epinephelus tauvina)

10-20

100,000-200,000

Mangrove jack (Lutjanus argentimaculatus), Kakap merah

5-8

50,000-80,000

 

Di Australia, ikan kerapu tidak hanya dijadikan komoditi perikanan, tetapi juga sebagai komoditi pariwisata yang sangat mahal. Perairan Great Barrier Reef di Australia bagian Pantai Timur Utara merupakan lokasi atraksi bawa laut yaitu dengan memberi makan (feeding) kepada ikan kerapu dari jenis Epinephelus tukula (potato cod). Ini adalah ajang pariwisata bahari yang mahal karena melibatkan berbagai pelaku (segment) ekonomi mulai dari transportasi darat, udara dan laut untuk membawa wisatawan manca negara sampai ke lokasi ikan tersebut. Jasa perhotelan yang tersedia di Pulau karang terdekat, pramuwisata (guide), peralatan menyelam dan pakan untuk menarik ikan kerapu  juga disediakan.

Berdasarkan hasil penelitian ilmiah terkini, penyebaran ikan kerapu cukup luas di semua samudera terutama di perairan yang beriklim tropis maupun subtrpois. Ada beberapa jenis yang hidupnya di perairan estuari (pertemuan antara air laut dan air tawar), namun secara keseluruhan sebahagian besar jenisnya  hidup di perairan terumbu karang (Heemstra ad Randall, 1993). Secara ekologi, ikan kerapu adalah salah satu top predator yang sangat menentukan aliran energi (food web) secara lokal dalam perairan melalui kebiasaan makannya. Dengan demikian mereka memiliki kemampuan menciptakan wilayah kekuasaan (teritory) dan feeding niche yang kuat. Secara sosial, teritori tersebut terbentuk dengan adanya sistem “harem” yang didominasi oleh ikan jantan yang selalu berukuran lebih besar dari betina. Keadaan ini terjadi melalui proses perganitian kelamin secara sekuensial dari jenis kelamin betina menjadi jantan (protogynous hermaphrodite) sejalan dengan pertambahan umur. Tidak semua ikan kerapu betina berkeinginan untuk merubah kelaminnya, tetapi apabila terjadi kekurangan ikan jantan dalam koloni akibat kematian alami (karena sakit) dan karena penangkapan, maka ikan betina yang berukuran relatif lebih besar akan mengambil peran tersebut. Secara internal struktur organ reproduksinya tidak banyak mengalami perubahan walaupun gonad telah diintervensi oleh spermatid yang terus berkembang dan menjadi spermazoa. Dalam kondisi seperti ini sisa telur yang tidak sempat dipijahkan tetap berada dalam jaringan gonad namun tidak lagi berkembang. Inilah tanda pengenal atau cap yang otentik bahwa ikan ini pernah berfungsi sebagai betina (Mosse, 2001).

Hingga kini berbagai penelitian menunjukan bahwa proses pergantian kelaminnya bervariasi di antara satu lokasi dengan lokasi yang lain serta menurut variasi waktu. Selain itu ditemukan bahwa dalam proses pergantian ini, tidak selamanya semua ikan betina berganti kelaminnya menjadi jantan. Sebaliknya tidak semua ikan jantan hanya berasal dari proses pergantian oleh betina yang telah berfungsi.  Hal ini terbukti dari sering ditemukannya ikan jantan yang berukuran relatif lebih kecil ataupun sama ukurannya dengan ikan betina.

Aktivitas reproduksinya bervariasi termasuk fase dimana seekor ikan kerapu betina memasuki fase kematangan gonad (organ reproduksi). Ada species tertentu yang memasuki fase ini pada umur 1 tahun tetapi ada juga baru memasukinya setelah mencapai umur 6 tahun. Aktivitas pemijahan dapat berlangsung selama 1 sampai 2 bulan sementara jenis yang lain memiliki kemampuan berpijah lebih dari 2 bulan bahkan bisa mencapai 6 bulan lamanya.

Secara umum, ukuran ikan kerapu berkisar antara 25cm sampai mencapai lebih dari 3 meter panjangnya (Total Length). Walaupun demikian secara ekonomis ukuran ikan yang paling digemari adalah yang berukuran sedang, antara 25cm-60cm (medium size). Memang pada awalnya kunsumer lebih menyukai ikan yang berukuran relatif besar dari kisaran ukuran di atas,  tetapi kini kecenderungannya telah bergeser dengan menyukai ikan yang berukuran sebuah piring makan (plate size). Kecenderungan ini memang cukup beralasan sebab kenyataannya ikan yang berukuran besar semakin jarang ditemukan di alam.  Hal inilah yang kemudian mendorong berbagai penelitian ilmiah yang terus dilakukan untuk mengungkapkan apakah kecenderungan ini cukup aman terhadap populasi atau tidak. Secara biologi pengertian aman berarti mustinya ikan tersebut telah melakukan proses reproduksi minimal satu kali dalam hidupnya sebelum akhirnya memakan umpan nelayan. Dengan demikian  proses recruitmen atau masuknya individu baru dalam populasi untuk menggantikan yang hilang akibat mati secara alami maupun oleh karena penangkapan dapat berlangsung.

Mengabaikan prinsip ini berarti kita ikut menghambat proses rekrutmen ke dalam populasi. Secara tidak sadar mungkin kita telah ikut menghancurkan populasi ikan kita di alam yaitu dengan mengkonsumsi ikan-ikan berukuran kecil atau ikan-ikan yang sedang dalam proses reproduksi. Ada beberapa contoh kasus dimana ada masyarakat tertentu yang menyukai mengkonsumsi ikan beronang = Samandar (Siganus sp)yang sedang mengandung telur-telurnya. Karena kebiasaan menangkap secara turun temurun, maka masyarakat tersebut telah pandai dalam menentukan waktu (bulan) penangkapan dan selalu bertepatan dengan puncak matangnya organ reproduksi ikan ini. Karena kebiasaan ini maka ternyata masyarakat tersebut mulai merasakan berkurangnya populasi ikan ini di sekitar perairan desa mereka. Ini adalah gambaran ketidak tahuan masyarakat yang mestinya menjadi tanggungjawab para ilmuan dan masyarakat dunia kampus sebelum kehancuran populasi yang lebih besar terjadi.

Berbagai penelitian terkini menunjukan bahwa ikan kerapu selain memiliki karakteristik di atas, ada beberapa karakteritik lainnya yang khas yaitu pola pertumbuhan yang lambat, cenderung hidup lebih lama (longer lifespan) serta laju kematian alami yang relatif rendah.

Berbeda dengan ikan-ikan lainnya yang hidup di permukaan air (pelagic species), kehidupan ikan kerapu adalah selalu menyendiri (solitary) di antara terumbu karang, tetapi pada musim pemijahan (spawning season) mereka melakukan migrasi ke perairan karang yang lebih dalam dan berkumpul dalam jumlah yang besar di lokasi dan bahkan waktu yang dapat diketahui. Setelah melewati musim pemijahan maka mereka cenderung menyebar sehingga tidak mengherankan bila hasil perhitungan jumlah stok sering berfluktuasi dari waktu ke waktu. Ini adalah salah satu karakteristik ikan karang yang unik. Pada momen inilah para nelayan yang telah berpengalaman dapat melakukan penangkapan secara besar-besaran tanpa memperdulikan aspek keberlanjutan (sustainability) dari sumberdaya. Tanpa disadari praktek ini akan menghambat mekanisme masuknya individu baru (new recruits) ke dalam stok.

Sebenarnya praktek ini telah lama dilarang sesuai dengan amanat UU No.9 Tahun 1989 dan yang telah diperbaharui dengan UU No.31 Tahun 2004 tentang Perikanan, namun sayangnya hal ini belum dapat dilaksanakan sepenuhnya. Akibatnya tanpa disadari sebenarnya stok perikanan ikan karang kita termasuk ikan kerapu semakin berkurang. Beberapa catatan penelitian telah lama membuktikan bahwa populasi ikan kerapu di beberapa perairan di Indonesia sudah tidak ekonomis lagi seperti di perairan kepulauan Riau dan di kepulauan Spermonde (Sulawesi Tenggara) (Johannes and Riepen, 1995). Tanpa disadari, sebenarnya kondisi ini juga telah lama terjadi di banyak perairan termasuk di perairan Maluku, hanya saja kita belum mau mengakuinya. Berkaitan dengan hal ini maka menurut saya penyebabnya hanya ada dua yaitu yang pertama masih kurangnya pengetahuan yang benar tentang status sumberdaya perikanan kita dan yang kedua berkaitan sangat erat dengan aspek politik. Betapa tidak, secara politik pemerintah kita masih akan sulit dan selalu hati-hati untuk mengatakan bahwa sumberdaya perikanan kita sudah mencapai status pengusahaan penuh (fully exploited) apalagi mengatakan bahwa kondisinya sudah mencapai status tangkap lebih (overfishing). Kenyataannya jumlah stok ikan di beberapa perairan di bagian Barat Indonesia telah memasuki bahkan melewati batas ambang tersebut (Djamali dan Mubarak, 1998).  Pogram pemerintah yang pernah dicetuskan beberapa tahun silam untuk merelokasi nelayan dari beberapa wilayah Indonesia bagian Barat dalam jumlah yang tidak sedikit ke wilayah Indonesia Timur sangatlah cukup untuk dijadikan sebagai indikasi bahwa memang potensi sumberdaya perikanan di sana sudah tidak aman lagi untuk diusahakan (Mosse, 2006). Ini artinya jumlah usaha (effort) yang meliputi banyaknya nelayan, peralatan, frekuensi melaut dan setiap investasi yang dibelanjakan untuk operasi penangkapan di laut sudah tidak seimbang lagi dengan stok yang ada di alam dan yang dapat dinyatakan melalui jumlah hasil tangkapan mereka. Inilah status tangkap lebih atau overfishing yang terjadi karena berkaitan dengan aspek ekonomi sehingga apabila suatu stok sumberdaya perikanan masih dianggap menguntukan, sumberdaya tersebut belum dapat dinyatakan overfishing. Sayangnya overfishing juga mengandung magna yang lebih luas ketimbang hanya didasari pada aspek ekonomi saja.  Russ (2001) mengemukakan bahwa selain overfishing yang disebutkan di atas (economic overfishing), masih ada 4 macam overfishing lagi yang perlu diketahui dan di awasi secara ketat yaitu;

1. Growth overfishing

Kegiatan penangkapan oleh nelayan akan mempengaruhi struktur ukuran dan umur populasi ikan secara langsung karena sudah pasti di dalam populasi, ikan yang berukuran relatif lebih besar dan yang lebih tua umurnya akan menjadi target utama penangkapan. Hal ini terjadi bukan saja karena pertimbangan eknomi (semakin besar ikan semakin mahal harganya), tetapi karena penggunaan alat tangkap yang juga cenderung selektif terhadap ukuran ikan yang lebih besar.  Ikan-ikan inilah yang paling pertama hilang dari populasi. Padahal jumlah ikan yang berada dalam spektrum ukuran dan umur yang demikian selalu lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang berukuran kecil dan yang masih muda umurnya.  Dalam situasi yang demikian, secara teoritis ekologi populasi sumberdaya berupa ruang dan makanan di alam mustinya  tersedia dalam jumlah yang cukup untuk menunjang kehidupan ikan yang tersisa. Bila skenario ini benar-benar terpenuhi maka akan sangat membantu mempercepat proses pertumbuhan ikan-ikan tersebut. Tetapi disaat intensitas kegiatan penangkapan meningkat dan melebihi laju pertumbuhan sebagai akibat dari kompensasi ekologis di atas, maka ikan yang akan ditangkap pasti yang berukuran kecil karena mereka belum sempat bertumbuh.

 

2. Recrutiment overfishing

Sebagai kelanjutan dari kondisi populasi di atas dimana individu yang tersisa mustinya dapat berfungsi sebagai calon induk (breeder) untuk menghasilkan  anakan baru (recruits) ke dalam populasi. Tetapi apabila intenstitas penangkapan terus meningkat dan mengurangi calon induk tersebut, maka jumlah individu baru yang akan dihasilkan juga pasti akan berkurang secara sangat nyata.

 

3. Ecosystem overfishing

Kondisi ini merupakan rangkaian lanjutan dari peristiwa overfishing sebelumnya dan kini semakin parah karena telah menyentuh sampai pada tataran komunitas ikan atau bahkan ekosistem secara keseluruhan. Apabila tidak ada kontrol terhadap aktivitas penangkapan yang semakin intensif maka apa yang akan terjadi adalah perubahan kelimpahan relatif dan atau komposisi dari jenis-jenis ikan yang ada. Berkaitan dengan konsep ini maka sebenarnya sedang berkembang suatu paradigma baru yang dikenal dengan istiah EBFM atau Ecosystem Based Fisheries Management. Memang model pemanfaatan yang satu ini masih terus didiskusikan diantara para ahli perikanan terutama mereka yang menganut prinsip ukuran minimum. Walaupun model ini sedang dalam pengujian dan analisa mendalam, namun demikian yang menarik adalah bahwa model ini menawarkan pemanfaatan semua ukuran ikan dalam struktur piramida yang ada (Zhou, 2010, Hutubessy, 2012). Singkatnya, kalau mau supaya sumberdaya ikan kita tetap lestari maka dianjurkan supaya jangan tangkap ikan satu ukuran saja tetapi tangkap semua ukuran (dari yang berukuran kecil sampai besar).

 

4. Malthusian overfishing

Ini adalah kondisi suatu sumberdaya perikanan dimana jumlah nelayan yang ada melebihi, sementara jumlah ikan yang akan ditangkap sudah tidak mencukupi. Seperti yang sering dijumpai, apabila hasil tangkapan terus menurun sementara permintaan ikan tetap bahkan meningkat maka nelayan akan tetap berusaha untuk memenuhi permintaan tersebut dengan cara apapun yang penting mendapatkan ikan. Praktek penangkapan yang merusak seolah-olah bukan urusan saya, itu urusan pemerintah. Penggunaan bahan peledak dan kimia seperti potasium dan cyanide untuk menangkap ikan kerapu maupun ikan karang lainnya adalah contoh klasik dari  gejala Malthusian overfishing yang dapat dijumpai di banyak negara sedang berkembang termasuk Indonesia.

Tidak tercatatnya informasi produksi maupun aktivitas ekspor ikan kerapu dalam dokumen statistik kita di Maluku sejak tahun 2005 hingga 2008 ini semakin memperkuat pendapat bahwa ikan kerapu memang belum mendapat perhatian serius (Maluku Dalam Angka, 2008). Sebenarnya kondisi ini terjadi hampir di semua negara di Asia Tenggara yang memiliki terumbu karang sebagai akibat dari salah urus. Sebagai pembanding saya mencoba memaparkan kondisi riil yang dilakukan oleh masyarakat di Australia dalam mengelola perikanan ikan kerapu mereka yang telah lama dikenal dan tercatat sebagai yang paling sehat di dunia. Hal ini bisa tercapai karena hanya empat hal:

  1. Tersedianya data penelitian yang akurat tentang dinamika populasi ikan karangnya secara keseluruhan terutama ikan kerapu.
  2. Regulasi yang diterbitkan untuk mengatur industri perikanannya benar-benar berdasarkan ilmu pengetahun (scientific based management)
  3. Pengawasan dan penerapan sanksi bagi yang melangggar sangat konsisten.
  4. Peran serta masyarakat untuk ikut menjaga sumberdaya perikanan yang ada sangat nyata dan aktif.

Langkah ini tentu sangat penting dalam pengelolaan sebab selain aspek reproduksi yang telah disinggung di atas, ikan kerapu maupun ikan karang pada umumnya bertumbuh relatif lambat jika dibandingkan dengan ikan pelagic.  Sebagai contoh kerapu sunu (Plectropomus leopardus) dalam 1 tahun umurnya baru dapat mencapai ukuran panjang total 20cm dan untuk mencapai ukuran maksimum 60cm dibutuhkan waktu 15 tahun.  Sedangkan dari aspek reproduksi ikan kerapu ini baru boleh ditangkap bila telah mencapai ukuran minimal 38cm disaat telah berumur antara 2 sampai 3 tahun. Ini adalah sistem pembatasan ukuran ikan yang diijinkan untuk ditangkap.   Prinsip inilah yang telah lama diadopsi oleh otoritas perikanan di Australia maupun negara lainnya termasuk di Maladewa sehingga tidak heran apabila sumberdaya perikanan ikan kerapu mereka masih tetap sehat untuk terus dikelola. Bagi kita di Indonesai, sistem ini juga sebenarnya telah lama ada seperti yang termuat dalam UU No.9 Tahun 1989 yang kini telah diperbaharui melalui UU No.31 tahun 2004 tentang perikanan dan secara khusus pembatasan tersebut termuat dengan jelas pada pasal 7 ayat 2 (huruf j) yang mengatur tentang ukuran atau berat minimum yang boleh ditangkap. Sayangnya implementasi dari regulasi tersebut masih sangat jauh dari harapan.

 

Budidaya ikan kerapu sebagai kebutuhan

Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius adalah fakta bahwa pasar ikan kerapu dunia tetap memerlukan sekitar 40% dari hasil budidaya (laut dan payau) untuk mengisi kekurangan kebutuhan konsumen dunia yang 60% -nya baru berasal dari hasil tangkapan di alam. Di sinilah teknologi budidaya yang tepat dapat dikembangkan untuk mencapai target di atas. Berdasarkan fakta biologi seperti disebutkan di atas, maka berbagai terobosan teknologi budidaya dapat mencakup rekayasa pakan untuk mempercepat laju pertumbuhan benih ikan dalam kondisi laboratorium maupun yang dipelihara di alam. Penciptaan kondisi pemeliharaan yang baik untuk proses domestikasi juga semakin berkembang. Hal ini terbukti dari semakin seringnya frekuensi pemijahan ikan kerapu dalam kondisi laboratorium. Walaupun keberhasilan baru meliputi beberapa species saja seperti Epinephelus fascogutatus, Cromileptis altivelis namun teknologi budidayanya hampir pasti telah dikuasai mulai dari memperoleh telur melalui induk alam hasil domestikasi sampai kepada pembesaran untuk ukuran konsumsi atau pasar.

Walaupun penguasaan teknologi budidaya semakin berkembang namun ketergantungan terhadap induk kerapu yang berasal dari alam masih sangat kuat. Hal ini disebabkan karena induk hasil budidaya (Fial pertama) masih sangat terbatas jumlahnya untuk menghasilkan telur maupun benih yang cukup sesuai perkembangan kebutuhan budidaya saat ini. Mengambil calon induk dari alam untuk proses budidaya seperti disinggung di atas menurut saya masih jauh lebih menguntukan jika dibandingkan dengan memgumpulkan benih dari alam yang kemudian dibesarkan diberbagai fasilitas budidaya seperti keramba, kolam dll. Dasar pemikirannya adalah bahwa populasi ikan karang terutama kerapu sangat dibatasi oleh proses rekruitmen tetapi bukan oleh persaingan atau pemangsaan.

Secara biologi ikan kerapu sanggup menghasilkan 10.000.000 sampai 20.000.000 telur sekali musim pemijahan yang kemudian berkembang menjadi anakan (larvae). Larva yang telah mengalami metamorfosa sempurna dan memiliki organ layaknya ikan dewasa kemudian berenang dan mencari terumbu karang di sepanjang wilayah pesisir untuk menetap. Dalam proses mencari habitat inilah, dari sebahagian besar anakan ikan yang masih berbentuk planktonik hanya sekelompok kecil yang berhasil tiba di lokasi tujuan untuk menetap, tumbuh dan berkembang menjadi ikan kerapu dewasa. Melihat kenyataan ini maka apabila usaha mengumpulkan benih dari alam terus dilakukan maka dipastikan bukan saja jumlah stok ikan kerapu dewasa tetapi anakan ikan kerapu juga akan berkurang secara nyata. Masuknya kapal-kapal penangkap dari Hongkong, Taiwan dan Thailand ke wilayah perairan Indonesia merupakan bukti bahwa stok ikan kerapu mereka sudah habis dan tidak menguntungkan lagi secara ekonomis.

Berangkat dari kenyataan di atas maka selain larangan untuk menangkap anakan ikan kerapu dari alam, upaya melindungi kawasan terumbu karang tertentu sebagai lokasi berkumpulnya ikan kerapu untuk berreproduksi harus semakin diperluas di seluruh wilayah Indonesia termasuk kita di Maluku. Langkah ini tidak hanya bermanfaat melindungi stok dan kemudian berfungsi sebagai penyumbang individu baru ke perairan sekitar, tetapi juga sebagai cadangan induk untuk kepentingan budidaya dimasa mendatang.  Dengan teknologi budidaya, ketekunan serta ditunjang oleh fasilitas yang memadai, kini berbagai hatchery dalam negeri telah mampu menghasilkan dan menjual telur ikan maupun benih (finggerlins) untuk memenuhi permintaan nelayan pembudidaya. Saat ini penjualan telur ikan kerapu semakin marak dimana-mana termasuk kita di Maluku. Data dari Balai Budidaya Laut Ambon menunjukan bahwa telur ikan kerapu bebek dijual dengan harga Rp 5 per butir  sedangkan benih yang berukuran 8cm sampai 9cm dijual dengan harga Rp1500 per cm. Beberapa species lain yang masih terus dikembangkan adalah Plectropomus leopardus atau kerapu sunu. Species ini telah berhasil dipijahkan dalam kondisi laboratorium namun larvanya belum dapat bertahan lama. Hal ini juga terjadi pada species Ceilinus undulatus atau sering disebut orang dengan nama ikan napoleon atau maming yang memiliki  ukuran diameter telur yang relatif sangat kecil jika dibandingkan dengan genus Epinephelus dan Cromileptes.  Kedua kasus ini mengidikasikan bahwa teknologi budidaya masih harus terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan species tertentu yang memang memerlukan teknik penanganan yang berbeda pula.

 

Bank ikan dan Badan otorita pengelolaan kawasan laut daerah; sebuah konsep

Sebenarnya usaha perlindungan kawasan laut di Indonesia telah lama diperkenalkan. Namun sayangnya belum berjalan dengan efektif sesuai dengan peruntukan wilayah yang telah ditetapkan. Kita kenal adanya kawasan taman nasional dan kawasan lainnya yang di dalamnya terdapat sejumlah pembagian wilayah (zona) sesuai dengan peruntukannya, kondisi fisik dan biologi organisme penghuni kawasan tersebut. Berkaitan dengan hal itu, maka belajar dari sejumlah fakta biologi, dinamika populasi dan fakta ekonomi di atas, usaha perlidungan sumberdaya ini seharusnya segera dilakukan. Sebenarnya hal ini dapat dilakukan dengan relatif mudah sebab pada dasarnya ikan kerapu memiliki sifat yang cenderung menetap (solitary). Dalam kondisi alami apabila habitatnya benar-benar bebas dari gangguan manusia atau aman, maka ikan ini pasti akan tetap menempati lokasi tersebut. Setidaknya hal ini terbukti dengan percobaan yang pernah saya lakukan dengan memberi tanda (tags) kepada lima ekor ikan kerapu dewasa dari genus Cephalopholis cyanostigma. Kelima ekor ikan tersebut berukuran antara 25cm sampai 32cm panjang total (TL). Setelah diberi tanda khusus yang ditancapkan dibagian pungung dan di depan sirip dorsal pertama, ikan tersebut kemudian dilepaskan untuk hidup kembali di alamnnya. Setelah 3 tahun lamanya ikan –ikan tersebut dibiarkan hidup bebas di habitatnya dan ternyata mereka tidak berpindah samasekali. Inilah sifat teritorial yang sangat kuat yang kalau dikelola dengan baik akan sangat menguntungkan karena populasinya tidak bergerak jauh. Sebaliknya sifat inipula sangat rentan terhadap ancaman eksploitasi yang tidak terkontrol apabila keberadaannya telah diketahui.

Berkaitan dengan hal di atas, maka usaha pemerintah untuk menetapkan kawasan-kawasan lindung atau konservasi laut di daerah (KKLD) perlu mendapat dukungan dari semua pihak. Hal ini sangat sejalan dengan program pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan nasional yang merencanakan untuk menetapkan sekitar 30juta Ha kawasan konservasi yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia sebelumakhir tahun 2015. Hal ini bukan saja karena adanya tuntutan untuk memenuhi amanat Undang-Undang tentang Perikanan maupun Undang-undang tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir yang telah ada, tetapi lebih dari itu agar keberadaan stok ikan karang termasuk kerapu tetap terjaga bagi kepentingan ekonomi nasional dan daerah. Zona perlindungan yang berstatus sebagai zona larang ambil (no take zone) akan berfungsi sebagai “Bank ikan” dimana sumberdaya ikan kerapu yang secara soliter hidup disana dilarang untuk diambil. Di sini aktivitas apapun tidak diperbolehkan sehingga tercipta suatu kawasan yang aman bagi setiap organisme penghuninya.  Berdasarkan pengalaman saya sewaktu ikut bertanggungjawab dan mengontrol penerapan sistem ini di Taman Nasional Komodo memperlihatkan bahwa sistem ini pada awalnya memang mahal karena harus melibatkan berbagai pihak selain kesiapan kesiapan logistik yang cukup memadai.  Tetapi sejalan dengan perkembangannya tingkat kesadaran masayarakat mulai meningkat dan akhirnya dukungan masyarakat semakin nyata. Dari namanya saja (“Bank ikan”),  kawasan ini akan berfungsi sebagai penyedia (suplier) sehingga ikan-ikan yang ada akan berkembang dan menghasilkan telur maupun individu baru (new recruits) yang kemudian terdistrubsui ke perairan sekitar melalui bantuan arus dan melalui mekanisme perpindahan karena kepadatan (density dependent) yang meningkat dalam habitat. Ikan yang telah berpindah ke zona sekitar yang telah ditetapkan sebagai kawasan pemanfaatan umum, atau memang merupakan wilayah fishing ground kemudian dapat dimanaatkan (Lihat diagram di bawah).

 

Selain konsep pengembangan di atas, saya ingin menyampaikan sebuah pandangan yang berkaitan dengan pembentukan sebuah badan otorita untuk menangani secara khsusus perikanan terumbu karang di Maluku. Badan ini belum pernah ada di Indonesia namun kalau kita mau jadikan ikan karang dan habitat terumbu karang yang Maluku miliki supaya tetap lestari maka konsep ini sangat relevan. Urgensi dari pandangan saya ini didasari pada sejumlah kenyataan bahwa:

  1. Maluku adalah propinsi kepulauan yang sebahagian besar pulaunya dikelilingi oleh hamparan terumbu karang yang cukup luas.
  2. Perairan terumbu karang menyimpan keanekaragaman hayati yang tinggi serta sumber biofarma yang tak ternilai namun belum diperhatikan dan ditangani secara serius.
  3. Perairan Maluku berada dalam jaringan segi tiga terumbu karang (coral trianggle net work) sehinga ikut membentuk dan sekaligus mempertahankan suatu sistem metapopulasi (karang dan organisme penghuninya termasuk ikan kerapu) yang kompleks dengan perairan terumbu karang dunia lainnya.
  4. Ikan kerapu sebagai simbol (icon) perikanan ikan karang memiliki nilai ekonomis yang mahal dan berskala internasional.
  5. Ikan kerapu memiliki karakteristik bilogy dan dinamika yang unik, kompleks dan mangandung nilai keilmuan (science) yang selalu manarik untuk diteliti.
  6. Ikan kerapu maupun ikan karang lainnya sedang mengalami ancaman eksploitasi yang tidak terkendali.
  7. Data tentang aspek biology serta dinamika populasinya di Indonesia terlebih khusus di Maluku masih sangat terbatas

 

Dengan demikian, badan ini diharapakan sebagai wadah untuk mengkaji status perikanan ikan karang dan memberi rekomendasi ilmiah terhadap setiap aktivitas yang berpotensi di dan sekitar perairan terumbu karang. Secara berkala badan ini harus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kondisi semua perairan terumbu karang yang ada dan mengeluarkan rekomendasi kepada pemerintah. Membuat pemetaan wilayah secara lengkap untuk setiap perairan yang memiliki terumbu karang dan menentukan statusnya sesuai dengan jenis peruntukan wilayah tersebut. Karena badan ini diberi wewenang untuk melakukan penelitian maka secara struktur lebih banyak didominasi oleh para ilmuwan perikanan dan kelautan. Para ilmuwan yang ada di badan ini juga dapat mengumpulkan semua informasi dari berbagai pihak dan lembaga yang juga melakukan penelitian dan kajian terhadap wilayah yang sama untuk menghasilkan suatu pertimbangan dan rekomendasi terintegrasi kepada pemerintah dan menyebarkannya secara luas kepada masyarakat. Dengan pendekatan ini, pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang perikanan ikan karang beserta ekosistemnya akan semakin ditingkatkan sehingga diharapkan keterlibatan masyarakat secara penuh menjaga dan memelihara sumberdaya ini semakin nyata pula. Ijinkanlah saya dan Universitas Pattimura mengusulkan nama untuk Badan ini yaitu “Otoritas Pengelolaan Terumbu Karang Indonesia” (OPTKI) atau Badan Otoritas Pengelolaan Terumbu Karang Maluku” (OPTKM).

 

Ucapan terima kasih
(Aknowledgement)

Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Rektor Universitas Pattimura, Prof. DR.Thomas Pentury, M.Si atas dorongannya sehingga tulisan ini dapat dirampungkan sebagai salah satu sumbangan pemikiran Unpatti bagi pembangunan Maluku. Kepada isteri saya, Ir.B.G.Hutubessy, M.Sc yang tengah menyelesaikan pendidikan Doktornya di Wageningen University Belanda juga tidak lupa saya sampaikan terima kasih atas berbagai argumen ilmiahnya menyangkut konsep EBFM. Saudara Irwanto, SP, MP sebagai tim editorial dan panitia diesnatalis Unpatti ke 50 (tahun emas) saya  juga menyampaikan banyak terima kasih atas kerja kerasnya dalam mengedit tulisan ini sehingga mudah dibaca.

 

PUSTAKA

Anonimous, 2008. Maluku Dalam Angka. Katalog BPS 1403.1, page 320-340

Djamali, A dan H.Mubarak, 1998. Sumber Daya ikan konsumsi perairab karang dalam Potensi dan penyebaran sumberdaya ikan laut di Perairan Indonesia. Komisi nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut. LIPI (Ed. Widodo dkk).

Dragong Search for QDPI, 1996. The market analysis of live reef fish market in Hongkong dan China, DPI, 120p

Heemstra, P.C and J.E.Randal, 1993. FAO species catalogue. Grouper of the world (Serranidae, sub-family Epinephelinae), vol 16, Rome

Hutubessy, B.G.2012. Can Improving Selectivity on Fish Trap Support Sustainability of Reef Fish (Critical Review). University of Wageningen, Netherland, 25p.

Johannes R.E and M.Riepen, 1995. Environmental, economic and social implications of the live reef fish Trade in Asia and Western Pacific, 81 pages

McManus, J.W, Nanola, C.L., Reyes, R.B and Kesner K.N, 1992. Resource ecology of the Balinau Coral Reef System (ICLARM Stud.Rev 22), ICLARM Manila, 117p

Mosse, J.W. 2001. Population Biology of Cephalopholis cyanostigma (Serranidae) of the Great Barrier Reef, Australia, PhD Disertation, Dep. Mar. Biol. And Aquaculture, James Cook University of NQ, Australia. 213pages

Mosse, J.W.2006. Transmigrasi nelayan di P.Wetar MTB, Cukup bijakkah kita. OPINI. Ambon Ekspres. Edisi 8 Juni No.196 Tahun ke 7 hal 4.

Mosse, J.W.2007. The extended longevity of a small coral reef serranid: A lesson from Cephalopholis cyanostigma (Blue spott Rock Cod) of the Great Barrier. Journal of Marine Researh in Indonesis Vol 32 No.1, page: 21-33

Munro, J.L, 1977. Actual and potential production from the coralline shelves  of the Carribean Sea, FAO Fish.Rep., 200. 301-321

Polunin, N.V.C and C.M.Roberts, 1996. Reef Fisheries. Chapman and Hall Fish and Fisheries serries 20, 447pages

Russ, G.2001. Fishery text. An Introduction to Fisheries Biology. Dept of Marine Bioloigy James Cook University, 80p

Sadovy, Y.J, 1996. Reproduction of reef fishery species In  Reef Fisheries (Ed. Polunin and Roberts), C and H Fisheries serries 20, page: 15-59

Shapiro, D.Y. 1981b. Sixe and the maturation and the social control of sex reversal in the coral reef fish Athias squamipinnis. Journal Zoology of London 193: 105-28

Smith, C.L. 1978. Coral reef fish communities: a compromise view. Env.Biol.Fishes, 3, 108-28

Williams, D.Mc. and A.T.Hatcher, 1993. Structure of fish communities on outer slopes of inshore, midshelf and outer shelve reefs of the Great Barrier Reef. Mar.Res.Prog.Ser 10: 239-250


ARTIKEL LAINNYA:

The Ethnobotany of Traditional Agriculture and Agroforestry System of the Geba Bupolo, Buru Island, Maluku, Indonesia

Max Marcus J. PattinamaFaculty of Agriculture Pattimura University, Ambon, Indonesiamjpattinama@gmail.com Marthin G. NanereSchool of Bussiness, La Trobe University, Australia Apollo Nsubuga-KyobeSchool...

Memahami Dinamika Populasi Untuk Menunjang Perikanan yang Sehat di Maluku

Ikan Kerapu (Garopa, Ambon): Memahami Dinamika Populasi Untuk Menunjang Perikanan yang Sehat di Maluku J.W.MosseGuru Besar Tetap Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpattie-mail: bwmosse@yahoo.co.id....

Ekonomi Overfishing dan Overcapacity

EKONOMI OVERFISHING DAN OVERCAPACITY“Implikasi Bagi Pembangunan Perikanan” Oleh: Johanis Hiariey   I.  PENDAHULUAN Perikanan sejak zaman dahulu telah merupakan sumber pangan bagi umat manusia, penyedia...

The Role of Clara Cells in the Regeneration of Alveolar Epithelia (video)

The Role of Clara Cells in the Regeneration of Alveolar Epithelia Gino V. Limmon, Pattimura University, Ambon, Indonesia Clara cells and alveolar type II cells (AEC II) are widely accepted as the progenitor...

scroll back to top
 

Add comment


Security code
Refresh

Pahlawan

S EPERTI asli yang berasal dari kata asal ditambah akhiran -i, pahlawan ialah pahala + -wan, yakni orang yang pantas mendapat pahala. Yang menilai kepantasannya untuk memperoleh pahala ialah bangsa kepada siapa tindakan kepahlawanan yang tulus dan tanpa...

Ristek dan Pendidikan Tinggi

P ERJUANGAN Forum Rektor Indonesia untuk memisahkan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya terwujud. Kementerian ini sejatinya telah lama digadang-gadang Forum Rektor Indonesia (FRI). Alasannya, riset-riset...

Keseimbangan Pendidikan dan Difusi Trims

S ISTEM pendidikan yang mengembangkan pengetahuan ilmiah serta memberlatihkan keterampilan tentu merupakan pemasok pekerja berpengetahuan. Adapun difusi atau penyebaran pengetahuan ilmiah salah satunya akan membangkitkan permintaan atas pekerja berpengetahuan....

Seruan kepada Menristek dan Dikti

D IPISAHKANNYA urusan pendidikan tinggi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan karena ada berbagai persoalan pendidikan tinggi yang serius dan kurang mampu ditangani oleh kementerian ini.Akibatnya, prestasi akademik ilmuwan kita tertinggal dari ilmuwan...

Pendidikan dan Kebudayaan

S ETELAH menanti selama sepekan penuh, the longest week that ever exist, Presiden Joko Widodo mengumumkan komposisi pemerintahannya. Setelah menyaksikan di layar televisi susunan Kabinet Kerja-nya, saya sangat kecewa.Presiden cum pemimpin baru Indonesia...

Trilogi Ristek-Dikti-Industri

K ETIKA riset dan teknologi serta pendidikan tinggi disatupadukan dalam suatu lembaga tunggal, akan ada dua kemungkinan besar yang dapat terjadi. Kemungkinan pertama adalah riset dan teknologi (ristek) akan menjadi ujung tombak penyelenggaraan pendidikan...

Absurditas BAN-PT

K ETIKA berangkat dari Banda Aceh ke Jakarta beberapa waktu lalu, saya bertemu teman akrab saya di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. Dia bekerja di Pertamina pusat.Selaku profesor di Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), saya ditanya, ”Mengapa akreditasi...

Legitimasi Moral Dewan Pendidikan Nasional

S ALAH satu kritik pedas para akademisi dan praktisi pendidikan terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono adalah kelalaiannya dalam membentuk lembaga mandiri yang menjadi pengawas kebijakan pendidikan nasional, yaitu Dewan Pendidikan Nasional. Meski...

”Scientific Misconduct”, Tren Mencemaskan

I SU yang kerap terkait kegiatan penelitian adalah plagiarisme, yang secara umum didefinisikan sebagai mencuri ide orang lain lalu diaku karya sendiri. Kalau dicermati, plagiarisme hanyalah bagian dari scientific misconduct, suatu pelanggaran kode etik...

Rekayasa Ekologis untuk Pertanian Berkelanjutan

H AMA tumbuhan umum dijumpai dalam proses produksi ataupun penyimpanan di gudang. Kerugian akibat serangga dapat mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah, tergantung luas areal yang terserang. Berbagai jenis teknologi telah dikembangkan untuk mengatasi...
  • BI Selenggarakan Diseminasi Laporan Keuangan
    • any 17.11.2014 12:12
      Acara semacam ini semoga lebih sering terselenggara, sehingga ...
  • JIS dan Anak-anak Kita
    • emmanuel thomas 22.11.2014 22:44
      Hello, Adakah anda memerlukan pinjaman segera untuk melunasi ...
  • Seruan kepada Menristek dan Dikti
    • Mrs Mary 25.11.2014 15:32
      Apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi tagihan dan utang?
  • Tri Dharma PT dan Karier Dosen
    • mrs cynthia 27.11.2014 08:04
      Halo, Hal ini untuk memberitahukan kepada masyarakat umum bahwa ...
       
    • Mr Wagner 26.11.2014 06:25
      Halo semua, Saya seorang pemberi pinjaman pribadi, saya menawarkan ...
       
    • Ahmad 14.11.2014 13:16
      HATI-HATI HERE !!! Orang ini adalah scam! Jangan menghubungi mereka ...
       
    • mrs cynthia 13.11.2014 06:26
      Halo, Hal ini untuk menginformasika n kepada masyarakat umum bahwa ...
       
    • mrs cynthia 13.11.2014 06:25
      Halo, Hal ini untuk menginformasika n kepada masyarakat umum bahwa ...
  • Unpatti Jadi Contoh Hutan Kota
    • maju indonesia 25.11.2014 18:30
      http://goo.gl/uAkEUg
       
    • Indonesia Hijau 25.11.2014 18:29
      Semoga dengan langkah ini makin banyak lahan hijau di Indonesia ...

BI Selenggarakan Diseminasi Laporan Keuangan

KAMPUS POKA — Diseminasi laporan keuangan, kebijakan akuntansi dan operasi moneter yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Bersama Universitas Pattimura Ambon berlangsung di Aula Rektorat UNPATTI, Kamis...

International Conference of The Indonesian Chemical Society (ICICS)

KAMPUS POKA — Atas kerjasama Universitas Pattimura dan Pemerintah Kota Ambon, maka pada tanggal 17 September 2014 dilaksanakan kegiatan International Conference of the Indonesian Chemical Society (ICICS)...

Semarak Perayaan Idul Adha 1435 H

MESJID KAMPUS — Dalam rangka menyemarakkan perayaan Idul Adha 1435 H dalam lingkungan Universitas Pattimura, Dewan Mesjid Kampus UNPATTI melaksanakan beberapa kegiatan, antara lain Tabligh Akbar yg dilaksanakan...

KASAD-TNI: Generasi Muda Harus Waspadai Perang Proxy

KAMPUS POKA — Kali ini Jumat (10/10), Universitas Pattimura mendapat kunjungan kehormatan dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo. Kedatangannya di kampus UNPATTI dalam rangka...

Seminar Nasional Forum Dekan FISIP Se-Indonesia

AMBON — Satu lagi perhelatan Nasional digelar di Provinsi Seribu Pulau ini yang dibuka langsung secara resmi oleh Gubernur Maluku di kediamannya di Mangga Dua Ambon, sekaligus dengan acara jamuan makan...

Bedah Buku 'Sang Upuleru"

KAMPUS POKA — Acara bedah buku dengan judul "SANG UPULERU" digelar di Universitas Pattimura, pada Selasa, 19 Agustus 2014 di Aula Rektorat dalam rangka memperingati 100 tahun Prof.Dr. Gerrit Augustinus...

UNPATTI - Komite I DPD-RI: Uji Sahih RUU Pengadilan Agraria

KAMPUS POKA — Masalah agraria merupakan salah satu persoalan mendasar agraria saat ini dengan maraknya konflik atas pemilikan, penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan sumber-sumber agraria yang meliputi...

1.688 Peserta SBMPTN lulus di Universitas Pattimura

KAMPUS POKA — Sebanyak 1.688 orang dinyatakan diterima di Universitas Pattimura melalui jalur ujian tulis Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2014. Jumlah pendaftar jalur ini mencapai...

JK: Sistem Politik Indonesia tak Beradab

KAMPUS POKA — Mantan Wapres Jusuf Kalla menilai sistem perpolitikan dan demokrasi yang diusung saat ini di Indonesia masih diwarnai dengan hal-hal yang tidak beradab. Buktinya, awal orde reformasi justru...

Wagub: Kualitas Pendidikan di Maluku Terus Ditingkatkan

KAMPUS POKA — Kualitas pendidikan di Maluku dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Hal itu disebabkan adanya peran serta dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan termasuk yayasan-yayasan...

KOLOM MAHA-PATTI

Kolom MAHA-PATTI disediakan untuk mahasiswa berkreasi melalui tulisan, fotografi bahkan karya komik. Lewat kolom ini, mahasiswa dapat mengirimkan berbagai liputan kegiatan tentang dunia mahasiswa, mulai dari dalam kampus sampai pada kegiatan di luar kampus. Kirimkan kreativitasmu ke alamat email: maha-patti@unpatti.ac.id. Selamat bergabung dan menjadi bagian dari komunitas muda kampus yang kreatif.

Bagabung jua !

PENGUNJUNG

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday3046
mod_vvisit_counterYesterday4295
mod_vvisit_counterThis Week23786
mod_vvisit_counterLast Week22555
mod_vvisit_counterThis Month103587
mod_vvisit_counterLast Month91675
mod_vvisit_counterAll days2267684

We have: 23 guests online
since March 03, 2013

KONTAK

Jl. Ir. M. Putuhena Kampus-Poka
Ambon-Indonesia  97116

BUKU

Salah satu isu penting pendidikan tinggi adalah persoalan tata kelola perguruan tinggi yang kerap dikaitkan dengan isu komersialisasi, privatisasi, dan sebagainya. Diperlukan payung hukum setingkat undang-undang yang secara khusus mengatur pendidikan tinggi terutama terkait tata kelola perguruan tinggi.

Joomla template by ByJoomla.com