Rektor Unpatti Kukuhkan Prof. Dr. Samuel Jusuf Litualy, M.Pd Sebagai Guru Besar

UNPATTI,- Universitas Pattimura menyelenggarakan Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Pattimura dalam rangka Pengukuhan Prof. Dr. Samuel Jusuf Litualy, M.Pd sebagai Guru Besar Dalam Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura, yang berlangsung di lantai II Aula Rektorat Unpatti, Jumat (4 Juni 2021).

Prof. Dr. Samuel Jusuf Litualy, M.Pd diangkat sebagai Guru Besar berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (MENDIKBUDRISTEK) RI Nomor 29130/MPK.A/KP.05.01/2021 dan menyandang jabatan Guru Besar dalam Pendidikan Bahasa Jerman Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pattimura.

Pengukuhan yang dilaksanakan dalam Pandemi Covid-19, dilakukan sesuai protokol kesehatan. 21 orang anggota senat yang menghadiri kegiatan ini dari 70 orang anggota Senat Universitas Pattimura. Pembatasan jumlah anggota senat yang hadir dilakukan sebagai bentuk penerapan protokol kesehatan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Maluku, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan serta para Dosen dalam lingkup FKIP, Rohaniawan, Paduan Suara Hotumese Unpatti dan Keluarga.

Ketua Senat Unversitas Pattimura, Prof. Dr. S. E. M. Nirahua, S.H, M. Hum, membuka secara resmi pengukuhan dengan agenda Pembacaan Surat Keputusan Pengangkatan dalam Jabatan Guru Besar, Pembacaan Daftar Riwayat Hidup oleh Dekan FKIP, Pidato Pengukuhan, Pengukuhan Guru Besar dilanjutkan dengan pengalungan piagam dan plakat sebagai tanda Guru Besar, Sambutan Rektor hingga Rapat Senat ditutup oleh Ketua Senat.

Prof. Dr. Samuel Jusuf Litualy, M.Pd dalam menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besarnya dengan judul “Karya Sastra Bandingan Sebagai Jembatan Bagi Pembelajaran Bahasa dan Pembentukan Karakter Peserta Didik” mengatakan, Karya Sastra sering dipahami secara beragam bahkan ada yang memahaminya sebagai karya atau imajinasi penulisnya tanpa dasar, tetapi pada hakikatnya tidak demikian. Inti karya sastra adalah pengalaman, pengamatan pengarang terhadap peristiwa-peristiwa di sekelilingnya yang kemudia diolah secara imajinatif, kreatif, artistik sehingga menjadi karya yang mengandung nilai-nilai kehidupan. Karya tersebut kemudia disampaikan dengan bahasa yang dirangkai secara indah melalui diksi-diksinya sehingga menarik untuk dibaca.

Dikatakan pula, salah satu bidang sastra yang dapat dimanfaatkan untuk mengenal dan memahami budaya lintas bangsa adalah sastra bandingan. Sastra bandingan dalam Bahasa Perancis disebut oleh Villemain (1829) dengan istilah literature comparce, sedangkan J. J. Ampere (1848) menyebutnya histoire comparative, Wellek dan Earren (1990) menyebutnya dengan istilah comporative literature, sedangkan Hendrik Birus (2008) menyebutnya dengan istilah Allgemeine und Vergleichende Literaturwissenschaft (Komparistik), yang diartikan sebagai ilmu pengetahuan tentang sastra secara menyeluruh dan perbandingannya. Dikatakan bahwa penguasaan pengetahuan sastra harus ditindaklanjuti dengan mengadakan studi sastra bandingan antara lain kajian karya sastra lintas budaya sehingga memperkaya pengetahuan dan wawasan terutama terkait dengan kandungan budaya karya tersebut tetapi cara-cara atau gaya-gaya (schreibstil) penulis dalam merangkai peristiwa isi karyanya.

“Kehadiran Sastra Bandingan memberikan manfaat antara lain sebagai landasan studi karya sastra lintas budaya, sebagai basis atau landasan pembelajaran ketereampilan berbahasa (Sprachfertigkeit-en), sebagai sarana penguatan pendidikan karakter (PPK). Sebagai landasan studi teks lintas budaya, karya sastra bandingan dapat dimanfaatkan untuk membandingkan budaya antar bangsa”, ungkap Prof. Samuel.

Ia menambahkan, hasil karya sastra bandingan dapat difungsikan dan dimanfaatkan sebagai salah satu basis dalam pembelajaran keterampilan berbahasa melalui diksi, gaya bahasa, gaya menulis dan ungkapan-ungkapan yang digunakan sebagai medium karya sastra.

Rektor, Prof. Dr. M. J. Saptenno, S.H, M.Hum dalam sambutan mengatakan hari ini Universitas Pattimura menorehkan sejarah baru dalam perjalan universitas kedepan, dengan bertambahnya satu orang Guru Besar   “ Hadirnya Guru Besar yang baru dalam Ilmu Bahasa di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan hari ini menambah Guru Besar pada FKIP. Ini bertanda bahwa dari waktu ke waktu proses-proses pengangkatan dan pengusulan Guru Besar semakin hari semakin sulit tetapi dari tahun ke tahun senantiasa bertambah”, ujar Rektor. Lanjut Rektor, proses pengangkatan Guru Besar saat ini sangat sulit karena membutuhkan tulisan-tulisan atau publikasi tetapi juga jurnal international terindeks spokus.

Beliau berharap, kepada yang lain juga agar tidak putus asa walaupun persyaratan dari tahun ke tahun berubah, tetap berusaha dan lakukan yang terbaik untuk kemajuan Universitas Pattimura kedepan serta berkarya terus agar generi penerus akan berkiprah di dunia International”.

“Usahakan agar semua dosen bisa mendapatkan gelar Guru Besar dan itu penting, karena lewat semuanya itu maka universitas semakin hari semakin baik lewat sumberdaya manusia yang ada. Selama kita menjadi dosen apalagi sudah mendapatkan gelar Doktor (Dr) kalau tidak berupaya untuk mendapatkan Guru Besar berarti tidak ada artinya”, ucap Rektor.

Prof Saptenno menambahkan, ada 42 alumni Universitas Pattimura yang saat ini bekerja di Negera Jerman dan itu berarti Unpatti tidak kalah saing dengan Universitas Indonesia, ITB, IPB dan Perguruan Tinggi lainnya.

“Mari terus berkarya dan lanjutkan pekerjaan-pekerjaan kita kedepan dan diharapkan agar fakultas-fakultas yang lain dapat mendorong dosen-dosen dengan gelar Doktor agar mengusulkan Guru Besar”, tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.